Ketika masih kanak-kanak, sangat sulit
bagi saya untuk mendapatkan bahan bacaan. Kemampuan ekonomi Emak Ayah juga tak
mendukung untuk memenuhi kebutuhan bahan bacaan. Maka jalan yang ditempuh untuk
mendapatkan buku bacaan gratis, adalah mengayuh sepeda punya ayah, pergi ke
kota, kemudian 'nongkrong' di tempat jualan buku bekas di Jl. Listrik. Abang
penjual buku bekas berbadan kurus tinggi, bermata sipit, dan pandai berbahasa
cina. Ia dapat ditemui dari jam 16.00 hingg 22.00 WIB, dan merupakan satu-satunya
penjual buku yang menggelar lapak di pinggir jalan. Saat itu, perpustakaan
kabupaten belum ada. Apatah lagi Taman Bacaan Masyarakat.
Pada tahun 2003, saya punya angan-angan
untuk dapat melihat perpustakaan kota, hal ini saya ungkapkan dalam sebuah
puisi:
RENUNGAN ONLY
Jalan ini seperti biasanya
Setiap blok, gang, persimpangan
yang ada hanya warung, tukang es, tukang
jam
Penjual barang-barang loakan
Jalan ini tak mungkin bisa seperti yang
kurenungkan
Setiap blok, gang, persimpangan
Ada perpustakaan
Tempat pelajar, mahasiswa, Bapak Ibu
Menghabiskan waktu luang
Menimba Ilmu Pengetahuan
Jalan ini adalah tempat kita berjalan
Imam Bonjol, Sisingamangaraja, Listrik, Cokroaminoto,
Diponegoro
Tukang jam, tukang loak, tukang
gado-gado
Jalan ini
Hanya renungan tak terealisasikan
12/06/03
Alhamdulillah, sekarang kita sudah punya
perpustakaan kota, di Jl. Cokroaminto. Saya sendiri baru dapat mewujudkan punya
perpustakaan sendiri sejak kelas 3 SMK, dan akhirnya menjelma menjadi taman
bacaan masyarakat pada awal tahun 2012, empat tahun setelah menikah. Buku-buku
yang ada merupakan buku kumpulan saya dan istri ketika masih kuliah.
Pada akhir tahun 2012, TBM Azka yang beralamat
di Jl. Williem Iskandar Gg. Abadi, sudah dapat bantuan dari Gerakan SAJUBU
(Satu Juta Buku) yang dipelopori oleh Tere Liye (penulis buku Hafalan Sholat
Delisa) dan bantuan ke-2 pada tahun 2014. Kemudian menyusul gerakan 1001 buku
pada tahun 2016.
Sejak pemerintah menggulirkan program
Free Cargo Literacy (FCL) pada bulan Mei 2017, yaitu program pengiriman buku
gratis untuk TBM/pegiat literasi yang terdaftar melalui kantor pos, pada tanggal
17 setiap bulan, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Azka yang berlokasi di Jl. Paria
Siumbut-umbut, Kec. Kisaran Timur Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara,
mendapat kiriman buku dari penulis buku, instansi, atau relawan pecinta buku. Pertama
kali merasakan program tersebut melalui yayasan 1001buku, yang mengirim buku
pada bulan Nopember 2017. Kemudian berturut-turut setiap bulannya termasuk dari
keluarga Quraish Shihab dan Kompas.
Bulan Maret 2018 ini, TBM Azka mendapatkan bantuan 251 ekslemplar
buku dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Alhamdulillah, Insyallah
bermanfaat guna.
Tak hanya itu, sahabat-sahabat saya,
yang melihat pergerakan dari TBM Azka, juga tergerak hati untuk memberikan
bantuan buku. Ada bu Wiwid di Bekasi, pak Abu Royan di Kisaran, Sdr. Irawan di
Sei Kepayang, dan 22 Ekslemplar majalah ASAH dari KONI Asahan (pak Nurkarim
Neher/Alang Lombam).
Yang unik dari majalah Asah, sebenarnya
saya mengutip 'harta karun' tersebut dari pameran hari jadi Asahan ke 72 tahun
2018. Majalah Asah tergeletak begitu saja di atas meja di salah satu kios
pameran, dan boleh diambil secara gratis. Sontak saja saya menjadi 'rakus'
untuk mengambil seluruh majalah tersebut.
===
INGIN BUKU/MAJALAH ANDA BERMANFAAT GUNA?
SUMBANGKAN SAJA KE TBM AZKA
085261011688 (SAUFI GINTING)
Saya sudah lama mencari, komunitas pegiat literasi di kab. Asahan. Ternyata bapak salah satunya. Kalo waktu di Ar Roja dulu saya tahu. Saya bakalan rajin ke TBM Azka Gemilang. Semoga semakin banyak yg tergabung dalam komunitas pegiat literasi di Asahan
BalasHapus