Senin, 28 Januari 2019

CATATAN LITERASI



Ketika masih kanak-kanak, sangat sulit bagi saya untuk mendapatkan bahan bacaan. Kemampuan ekonomi Emak Ayah juga tak mendukung untuk memenuhi kebutuhan bahan bacaan. Maka jalan yang ditempuh untuk mendapatkan buku bacaan gratis, adalah mengayuh sepeda punya ayah, pergi ke kota, kemudian 'nongkrong' di tempat jualan buku bekas di Jl. Listrik. Abang penjual buku bekas berbadan kurus tinggi, bermata sipit, dan pandai berbahasa cina. Ia dapat ditemui dari jam 16.00 hingg 22.00 WIB, dan merupakan satu-satunya penjual buku yang menggelar lapak di pinggir jalan. Saat itu, perpustakaan kabupaten belum ada. Apatah lagi Taman Bacaan Masyarakat.

Pada tahun 2003, saya punya angan-angan untuk dapat melihat perpustakaan kota, hal ini saya ungkapkan dalam sebuah puisi:

RENUNGAN ONLY
Jalan ini seperti biasanya
Setiap blok, gang, persimpangan
yang ada hanya warung, tukang es, tukang jam
Penjual barang-barang loakan

Jalan ini tak mungkin bisa seperti yang kurenungkan
Setiap blok, gang, persimpangan
Ada perpustakaan
Tempat pelajar, mahasiswa, Bapak Ibu
Menghabiskan waktu luang
Menimba Ilmu Pengetahuan

Jalan ini adalah tempat kita berjalan
Imam Bonjol, Sisingamangaraja, Listrik, Cokroaminoto, Diponegoro
Tukang jam, tukang loak, tukang gado-gado

Jalan ini
Hanya renungan tak terealisasikan

12/06/03

Alhamdulillah, sekarang kita sudah punya perpustakaan kota, di Jl. Cokroaminto. Saya sendiri baru dapat mewujudkan punya perpustakaan sendiri sejak kelas 3 SMK, dan akhirnya menjelma menjadi taman bacaan masyarakat pada awal tahun 2012, empat tahun setelah menikah. Buku-buku yang ada merupakan buku kumpulan saya dan istri ketika masih kuliah.

Pada akhir tahun 2012, TBM Azka yang beralamat di Jl. Williem Iskandar Gg. Abadi, sudah dapat bantuan dari Gerakan SAJUBU (Satu Juta Buku) yang dipelopori oleh Tere Liye (penulis buku Hafalan Sholat Delisa) dan bantuan ke-2 pada tahun 2014. Kemudian menyusul gerakan 1001 buku pada tahun 2016.

Sejak pemerintah menggulirkan program Free Cargo Literacy (FCL) pada bulan Mei 2017, yaitu program pengiriman buku gratis untuk TBM/pegiat literasi yang terdaftar melalui kantor pos, pada tanggal 17 setiap bulan, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Azka yang berlokasi di Jl. Paria Siumbut-umbut, Kec. Kisaran Timur Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, mendapat kiriman buku dari penulis buku, instansi, atau relawan pecinta buku. Pertama kali merasakan program tersebut melalui yayasan 1001buku, yang mengirim buku pada bulan Nopember 2017. Kemudian berturut-turut setiap bulannya termasuk dari keluarga Quraish Shihab dan Kompas.

Bulan Maret 2018 ini,  TBM Azka mendapatkan bantuan 251 ekslemplar buku dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Alhamdulillah, Insyallah bermanfaat guna.

Tak hanya itu, sahabat-sahabat saya, yang melihat pergerakan dari TBM Azka, juga tergerak hati untuk memberikan bantuan buku. Ada bu Wiwid di Bekasi, pak Abu Royan di Kisaran, Sdr. Irawan di Sei Kepayang, dan 22 Ekslemplar majalah ASAH dari KONI Asahan (pak Nurkarim Neher/Alang Lombam).
Yang unik dari majalah Asah, sebenarnya saya mengutip 'harta karun' tersebut dari pameran hari jadi Asahan ke 72 tahun 2018. Majalah Asah tergeletak begitu saja di atas meja di salah satu kios pameran, dan boleh diambil secara gratis. Sontak saja saya menjadi 'rakus' untuk mengambil seluruh majalah tersebut.
===
INGIN BUKU/MAJALAH ANDA BERMANFAAT GUNA?
SUMBANGKAN SAJA KE TBM AZKA
085261011688 (SAUFI GINTING)



1 komentar:

  1. Saya sudah lama mencari, komunitas pegiat literasi di kab. Asahan. Ternyata bapak salah satunya. Kalo waktu di Ar Roja dulu saya tahu. Saya bakalan rajin ke TBM Azka Gemilang. Semoga semakin banyak yg tergabung dalam komunitas pegiat literasi di Asahan

    BalasHapus